Ngingidah Poto Tano “bukan ritual mengada-ngada”

Indonesia adalah bangsa bahari yang ditunjukkan dengan berbagai peradaban yang berasal dari berbagai etnik. Keragaman budaya telah mempengaruhi bangsa ini dalam memahami pentingnya budaya bahari. Budaya bahari hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan memiliki cara pandang tertentu tentang religi (pandangan hidup), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi dan pengetahuan. Unsur tersebut diarahkan pada pemberdayaan dan sumber daya kelautan untuk pertumbuhan dan dinamika masyarakat yang menetap di wilayah perairan, pesisir. Bagi masyarakat pesisir, sikap hidup dasar masyarakat tersebut adalah memiliki atau menganggap bahwa laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat.


Salah satu budaya yang cukup menarik dalam masyarakat pesisir Poto Tano, Sumbawa Barat adalah ritual selamatan laut dalam bahasa bajo “ngingidah”. Ritual ngingidah dihajatkan sebagai ucapan terimah kasih dan memohon keselamatan kepada sang pencipta alam semesta yang telah memberi kehidupan bagi masyarakat pesisir. Budaya ngingidah diyakini oleh masyarakat muslim pesisir (Poto Tano) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa sekaligus sebagai simbol budaya berbasis kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan dilestarikan. Sesaji untuk persembahan dalam ritual ngingidah antara lain ayam, kepala kambing atau sapi, dan dupa. Persembahan tersebut diarak mengelilingi Desa kemudian dibawa ke laut dengan perahu nelayan dan selanjutnya bahan sesaji tersebut dibuang ke laut sebagai rangkaian puncak dari ritual ngingidah. Ngingidah secara turun temurun telah dilakukan oleh masyarakat Poto Tano sebagai peristiwa sakral masyarakat pesisir dalam menjaga, menghormati dan melindungi alam laut sebagai sumber kehidupan. Masyarakat Poto Tano biasanya melaksanakan ritual ngingidah tersebut pada bulan Desember setiap tahunnya.


Masyarakat pesisir memiliki cara pandang tertentu terhadap sumber daya laut dan persepsi kelautan. Latar belakang budaya yang dimiliki oleh masyarakat pesisir, muncul suatu tradisi untuk menghormati kekuatan sumber daya laut. Tradisi tesebut lazimnya diwujudkankan melalui ritual, yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur karena alam melalui sumber daya laut telah memberikan kelimpahan serta rejeki dalam kelangsungan hidup masyarakat pesisir. Budaya ngingidah di Poto Tano juga cukup berpotensi menjadi sumber daya pariwisata buatan yang dikemas untuk konsumsi wisatawan. Pemerintah dan pihak swasta diharapkan mampu membuat terobosan melalui event “festival pesisir” dengan daya tarik wisata bahari dan masyarakat pesisir yang menjadi sebuah paket marine tourism yang diminati di Sumbawa Barat.

(anas pattaray)