Tradisi Halal bi Halal Perkuat Silaturrahmi

Halal bi halal berasal dari kata halla atau halal yang bisa berarti menyelesaikan persoalan atau problem, meluruskan benang kusut, mencairkan air yang keruh, dan melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan adanya acara halal bi halal diharapkan hubungan yang selama ini keruh dan kusut dapat segera diurai dan dijernihkan. Halal bi halal bermakna untuk merekonstruksi relasi kemanusiaan yang lebih sejuk dan menentramkan.

Tradisi Halal bi halal sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia termasuk masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat yang tidak bisa di lepas dari rangkaian perayaan Hari Besar umat Islam Idul Fitri. Ini patut dipertahankan, dengan manfaat seperti yang disebutkan diatas, akan memberikan manfaat yang baik dalam rangka keberlangsungan kehidupan yang rukun didalam masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat.

Ruang Rekreasi dan Minat Wisata

Rekreasi di Sumbawa Barat
Libur panjang setelah lebaran adalah momentum silaturrahmi untuk mempererat hubungan kekerabatan dan kesempatan untuk rekreasi. Masyarakat memanfaatkan libur panjang pasca lebaran untuk mengungunjungi beberapa taman rekreasi bersama keluarga, kerabat, teman dekat dll. Rekreasi, dari bahasa Latin, re-creare, yang secara harfiah berarti ‘membuat ulang’, adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang. Hal ini adalah sebuah aktivitas yang dilakukan seseorang selain pekerjaan. Kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga, permainan, dan hobi. Kegiatan rekreasi umumnya dilakukan pada akhir pekan dan hari libur. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial.

Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang. Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa “mencipta kembali” (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena ‘menjauh’ dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah Adat Sumbawa Barat Dan Upaya Pelestarian Nilai Budaya

Saya akan mengawal pembangunan Rumah Adat ini sampai selesai. Kepada Dinas terkait agar mengalokasikan anggaran sesuai dengan kebutuhan. Jika pengalokasian anggarannya kurang di tahun 2014, selanjutnya agar dapat di anggarkan juga pada APBD perubahan. Khusus Rumah Adat kita berikan ruang seluas-luasnya. Demikian ungkap Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Dr KH Zulkifli Muhdali, SH, MM pada pembukaan Sarasehan Budaya Pembangunan Rumah Adat yang diprakarsai oleh Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Anorawi.

Romantika Jejak-Jejak Tertinggi di Sumbawa Barat, Sebuah Dokumentasi

Berwisata ke tempat yang baru memang menjadi hasrat (desire) manusia yang tak terelakkan. Biasanya mereka yang melakukan perjalanan memiliki motif beragam, antara lain ingin sejenak lepas dari rutinitas, atau sebuah keterbiasaan. Manneke Budiman (1991), dalam jurnal Kalam, menyebut perjalanan ke daerah baru sebenarnya bukan hanya menjadi gaya hidup, tapi ada dorongan untuk melihat dengan mata kepala sendiri apa yang selama ini hanya diantisipasi dalam lamunan dan fantasi, yaitu kenikmatan jenis yang berbeda dari apa yang sehari-hari dialami.  Banyak orang Eropa dan Amerika misalnya, bekerja selama setahun penuh hanya untuk dapat bepergian ke negeri lain pada akhir tahun dan membelanjakan segenap tabungan yang dikumpulkannya.