Batu Nganga

 



Pada zaman dahulu di Sumbawa Barat hiduplah sebuah keluarga, pak Dolah dan istrinya Sena bersama dua orang anaknya Isa dan Sahida. Mereka tinggal di sebuah gubuk di tepi hutan Pekerjaan pak Dolah sehari hari adalah mencari kayu di hutan dan kemudian di bantu istrinya menjual kayu-kayu itu kepada warga di desa. Dari hasil menjual kayu itulah mereka dapat mambeli makanan dan pakaian.

H.L. Muhadli Titip Rumah Adat Kepada Masyarakat KSB

Salah satu tugas besar yang belum dikawal penuntasannya oleh H.L. Muhadli semasa kepengurusannya  sebagai ketua LATS anorawi KSB adalah menuntaskan pembangunan rumah adat Kabupaten Sumbawa Barat. Perencanaan pembangunan rumah adat telah diawali dari tahun 2010 dengan melibatkan seluruh unsur adat yang ada di Kabupaten Sumbawa maupun KSB. Karena keterbatasan anggaran daerah, pelaksanaan pembangunannya beberapa kali ditunda, tetapi H.L. Muhadli tiada henti membangun komunikasi dengan Pemkab KSB dan pada akhirnya realisasi pembangunannya baru dapat diawali tahun 2014. Meskipun dalam perjalanannya banyak tantangan yang menghalangi, pelaksanaan pembangunan rumah adat oleh H.L.Muhadli harus dapat dituntaskan di tahun 2015. "minimal inilah ikhtiar yang saya lakukan untuk membangun kebudayaan di Sumbawa Barat, saya ingin sebelum saya tutup usia saya sudah dapat melihat bangunan rumah adat ini berdiri kokoh" ungkapnya beberapa minggu yg lalu pada saat wawancara pembangunan rumah ada di kediamanannya.

Menggali Potensi Desa Mantar sebagai Desa Wisata

Menyebut Mantar mengingatkan kita kepada masyarakat terisolir yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat. Desa Mantar letaknya di puncak gunung dengan ketinggian 600m di atas permukaan laut. Secara turun temurun Masyarakat Mantar telah menempati Desanya sejak jaman perbudakan dimasa penjajahan Belanda. Konon ceritanya asal muasal penduduk Desa Mantar adalah sekelompok buruh/budak yang kapalnya terdampar di selat alas. Penumpang yang selamat kemudian mendaki  ke puncak gunung untuk menemukan sumber air yang saat ini dikenal dengan nama  “ai’ mante”.  Desa Mantar hanya dapat diakses dengan jalan setapak dan bisa dilalui dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh selama 2 jam atau dengan menggunakan kuda  dengan waktu tempuh selama 1 jam dari Desa Senayan.